Wisata Kampung Tradisional Wologai di NTT, Usianya 900 Tahun

Para penjelajah yang berada di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), bisa membeli paket perjalanan wisata kampung adat ke Kampung Tradisional Wologai di Desa Wologai Tengah, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, NTT. Kampung Tradisional Wologai ini cukup unik lantaran udah berusia sekitar 900 tahun.

Mosalaki (Pemimpin) Pokok Kampung Adat Wologai sekaligus Ketua Sanggar Puupulepe Mbusu Wologai, Pius Ndewi mengatakan, salah satu bukti sejarah dari usia kampung ini berupa pohon beringin. “Bukti sejarah dan cerita yang secara turun temurun adalah pohon beringin yang terletak di depan kampung adat yang berusia 900 tahun,” kata Ndewi, Senin (9/10/2023). Adapun ia menuturkan, nama kampung ini terdiri dari dua kata yaitu “wolo” yang berarti bukit, sedangkan “gai” berarti Gelaga sehingga Wologai artinya Bukit Gelaga. Nama ini diberikan oleh leluhur orang Ende Lio.

Ndewi melanjutkan bahwa kampung ini tidak hanya dikunjungi wisatawan nusantara (wisnus), tapi juga wisatawan mancanegara (wisman). Ia pernah memandu wisman asal Jerman dan wisnus asal Jakarta beberapa waktu lalu. “Saya setiap hari memandu wisatawan mancanegara dan Nusantara yang berwisata di Kampung Adat Wologai sekaligus memberikan penjelasan tentang kampung adat yang sudah berusia 900 tahun,” ucapnya. Selain ke kampung ini, biasanya wisatawan juga mengunjungi Danau Tiga Warna (Danau Kelimutu) dan rumah pengasingan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno di Kota Ende.

Sebelum wisatawan mengelilingi kampung adat ini, mereka terlebih dahulu memakai pakaian adat bermotif Ende Lio. Pakaian adat ini terdiri dari dua jenis yakni motif untuk laki-laki dan motif untuk perempuan. “Di sini wisatawan wajib memakai pakaian adat Ende Lio sebelum mengunjungi rumah-rumah adat yang berada di Bukit Gelaga (Wologai),” tuturnya.

Ndewi menjelaskan, wisatawan yang memasuki Kampung Tradisional Wologai harus dipandu oleh anggota Kelompok Sadar wisata (Pokdarwis). Menurut pesan leluhur masyarakat setempat yang diwariskan, setiap wisatawan yang berkunjung wajib menginjak batu leluhur yang terletak di pintu gerbang kampung. Di bawah batu itu diyakini ada kuburan leluhur ribuan tahun silam. “Anggota Kelompok Sadar Wisata Kampung Wologai sudah mengetahui cerita itu dan wajib bagi wisatawan untuk menginjak batu leluhur tersebut,” ucap Ndewi.

Setiap rumah adat di Kampung Wologai, lanjutnya, memiliki cerita-cerita mistis dan menyimpan warisan ritual adat. “Pemandu dari Pokdarwis selalu mengisahkan cerita-cerita rumah adat bersama warisan yang tersimpan di bagian dalam rumah tersebut. Jikalau wisatawan ingin memasuki rumah adat harus dipandu dan ada penjaga perempuan yang berada di pintu masuk,” jelasnya. Wisatawan tidak hanya bisa menjelajahi kampung, tapi juga mampir ke kedai kopi khas Wologai yang masih ada di dalam lokasi yang sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like